Sunday, November 15, 2015

Kenali Diabetes Pada Anak Sejak Dini


World Diabetes Foundation menyarankan untuk mencurigai diabetes pada anak jika mengalami gejala klinis khas 3P dan kadar gula darah tinggi, di atas 200 mg/dl. Gejala 3P adalah:
  1. polifagi (sering makan karena rasa lapar yang berulang),
  2. polidipsi (sering minum karena rasa haus yang berulang), dan
  3. poliuri (sering kencing, termasuk mengompol pada malam hari pada anak yang biasanya sudah tidak mengompol).
Gejala lainnya dapat pula berupa kesemutan, lemas, luka yang sukar sembuh, atau pandangan kabur. Penyakit diabetes yang dialami oleh anak-anak terdiri dari dua tipe, yaitu diabetes tipe 1 (DM1) dan diabetes tipe 2 (DM2).
Anak dikatakan menderita DM 1 (Insulin Dependent Diabetes Mellitus), jika tubuhnya memerlukan pasokan insulin dari luar sepenuhnya karena sel-sel pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin. DM tipe 1 disebabkan oleh faktor genetik dan juga faktor pencetus lainnya.
Diabetes tipe 1 pada anak memerlukan pengobatan dengan injeksi insulin. Insulin diberikan untuk mengatasi komplikasi akut, mencegah kematian dini, mengurangi risiko terjadinya komplikasi kronis, dan mendukung aktivitas keseharian anak. Anak diabetes harus mendapat injeksi insulin seumur hidup dalam kondisi apapun.
Sedangkan DM tipe 2 (Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus) terjadi jika pasokan insulin di pankreas tidak mencukupi sehingga mengakibatkan terjadinya gangguan pengiriman glukosa ke seluruh sel tubuh, namun penderitanya tidak tergantung sepenuhnya pada pasokan insulin dari luar.
Sekitar 90 persen kasus diabetes adalah DM tipe 2. Umumnya DM tipe 2 tidak disertai dengan gejala yang spesifik, sehingga banyak penderita tidak menyadarinya.
Selama ini, banyak yang menganggap DM tipe 2 hanya diderita oleh mereka yang berusia lanjut, padahal DM tipe 2 dapat menyerang remaja bahkan anak-anak. Gaya hidup yang tidak sehat dan kegemukan menjadi faktor utama penyebab terjadinya DM2.
Diabetes pada anak dapat menyebabkan komplikasi akut dan kronis. Komplikasi akut yang dapat berujung pada kematian pasien adalah hiperglikemi karena diabetes belum diobati serta hipoglikemi karena pengobatan yang berlebihan. Komplikasi kronis adalah kelainan pembuluh darah besar di jantung dan otak ataupun pembuluh darah kecil pada mata, ginjal, dan serabut saraf.
Hiperglikemi dapat menyebabkan anak selalu lapar, sering kencing, dehidrasi, lemah, kejang, penurunan kesadaran, dan meninggal mendadak. Hipoglikemi sering membuat anak emosional, lelah, keringat dingin, pingsan, dan kerusakan sel permanen sehingga mengganggu fungsi organ dan proses tumbuh kembang anak.
Penyakit jantung koroner, gagal ginjal, kebutaan, mati rasa, atau meninggal di usia dewasa muda merupakan komplikasi kronis diabetes yang biasanya terjadi setelah anak jadi remaja.
Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencegah si kecil dari diabetes, diantaranya:
  • menerapkan pola hidup sehat,
  • mengatur pola makan yang seimbang dan tidak berlebihan gula,
  • kurangi makanan junk food dan minuman bersoda, dan
  • ajarkan si kecil untuk rutin berolahraga secara teratur.
Yang tidak kalah penting adalah para orang tua perlu memberi contoh dan inspirasi bagi si anak bagaimana menjaga kesehatan tubuh, dan tidak mengkonsumsi jenis makanan apapun secara berlebihan.

No comments:

Post a Comment

Seputar Keperawatan

HAI!! Kalau ada yang tanya "Perawat itu kerja nya ngapain sih? Apa benar perawat itu pembantu dokter? " Haduuuh kalau pert...